Minggu, 06 Juni 2010

CERPEN: MY DOLL, MY HONEY

MY DOLL, MY HONEY

Terik mentari siang itu terasa sangat menusuk tulang. Lelah pun semakin mengusik diriku. Kupercepat langkahku menuju halte bus yang ada di depan sekolahku.
Harusnya hal ini tidak akan terjadi kalau saja Pak Wandi bisa mengerem sedikiiit saja celotehannya mengenai perjuangan para pahlawan Indonesi dahulu. Aku heran, mengapa sesuatu hal yang sudah terjadi tempo dulu masiiih saja dipusingkan oleh bangsa sekarang. Huffft, dunia memang aneh.
***
Akhirnya aku sampai di halte. Tumben, halte ini sepi. Biasanya, halte ini dipenuhi dengan ciap-ciap para cewek ganjen di sekolah. Entah membicarakan kapten basket di sekolah, atau bahkan guru muda yang baru mengajar di sekolah. Tapi, siang ini terasa agak beda. Kulirik arloji mungil yang melingkar di pergelangan tanganku, 02.25. Itu artinya, lima menit lagi bus-ku akan segera datang.
Tak lama kemudian, seorang cowok dengan tinggi semampai berjalan ke arahku. Mungkin dia juga akan naik bus, begitu pikirku. Tiba-tiba…BRUKK!!! Gelas cappuccino yang ia pegang terjatuh mengenai rok sekolahku. Arrgghhh…!! Hampir saja aku melabraknya jika ia tidak langsung meminta maaf padaku.
“Aduh, sorry ya, aku nggak sengaja,” katanya sambil mengeluarkan tisu dari tasnya, kemudian mengelap rokku.
Aku hanya membalas perkataannya dengan senyum tipis. Aku berusaha membersihkan rokku. Ya Tuhan, lengkap sudah penderitaanku hari ini!
“Kenalin, aku Bobby,” katanya setelah acara membersihkan rok selesai.
“Keira,” kataku membalas jabatan tangannya.
“Masalah yang tadi, aku minta maaf ya! Sumpah, aku bener-bener gak sengaja,” ujarnya bersungguh-sungguh.
“Iya, gak apa-apa,” jawabku.
Tak lama setelah pembicaraan itu, bus-ku pun datang. Bobby juga naik ke bus itu. Kebetulan, masih ada dua kursi yang kosong. Jadi, aku tidak perlu berdiri seperti biasa.
“Kei, sebagai tanda minta maaf aku, aku mau nganter-jemput kamu ke sekolah selama seminggu,”kata Bobby yang duduk di sampingku.
DEG! Begitu merasa bersalahnyakah Bobby? Sampai-sampai, dia mau menebus kesalahannya dengan mengantar-jemputku ke sekolah?? Gila, baru kali ini aku ketemu cowok kayak dia!
“Hahh? Kamu mau ngantar-jemput aku pake apa? Bus?? Hahaha…” ujarku sambil tertawa.
“Aku punya motor kok, tapi hari ini lagi dibengkelin aja. Gimana, kamu mau gak?” katanya.
“Hmmm… Sebenarnya gak usah lagi. Tapi, kalo kamu mau, yaaa… Ok deh!” ujarku.
Setelah itu, aku pun mulai merasa akrab dengan Bobby. Setelah memberikan nomor HP-ku padanya, aku turun dari bus, dan ia melanjutkan perjalanan.
***
Tiiitt.. Tiiitt.. Tiiiiitttt…
HP-ku berdering keras. Incoming call.
“Halo?” kataku.
“Halo, Kei. Ini aku, Bobby,” ujar suara di ujung sana.
“Oh, eh iya. Ada apa?”
“Gak… lagi iseng aja. Kamu lagi ngapain?”
“Umh… Lagi belajar sambil ngeliatin bintang-bintang di langit,” kataku bodoh.
“Hahaha… Kamu bakat juga ya jadi pelawak?” tawa Bobby terdengar keras dari ujung sana.
Olala, aku pasti terlihat bodoh sekali. Mengapa aku jadi salah tingkah begini??
“Kei, ingat ya, besok aku yang nganterin kamu ke sekolah. Kamu gak perlu naik bus lagi,”
“Iyaaa.. OK!!”
“Ya udah, sampai besok..!” katanya menutup telepon.
Entah mengapa, aku merasa cocok dengan Bobby. Huaaahhh.. What’s going on?? Jatuh cinta sama Bobby? Yaiks… Tuhan, jangan biarkan ini terjadi dulu! Aku masih mau fokus sama sekolahku!!!
Setelah men-save nomor HP Bobby, aku pun segera beranjak menuju tempat tidur. Semoga hari esok lebih baik.
***
Pagi datang lagi. Kicauan burung dan cerahnya langit menmbah keceriaan hatiku. Yeahh.. Setidaknya aku tidak perlu lagi mengantri bus seperti kemarin. Kini ada Bobby yang siap mengantar-jemputku ke sekolah.
Suara mesin motor terdengar mendekat. Tidak salah lagi, dia adalah Bobby. Sambil mencangklong tas hitam dan memegang boneka Mickey Mouse-ku, aku menghampiri Bobby yang sudah sampai di halaman rumahku.
“Pagi, Kei,” sapanya.
“Pagi juga,” balasku.
“Loh, kamu masih suka main boneka, Kei? Hahaha..” katanya sambil tertawa.
“Iya, memangnya kenapa?? Gak salah kan?” jawabku enteng.
“Nggak sih… Ya udah, berangkat yuk!” ujar Bobby.
Aku pun segera naik ke Kawasaki-nya. Sepanjang jalan, aku banyak ngobrol dengan Bobby.
“Kamu kok masih seneng main boneka sih, Kei?” katanya.
“Yaa, nggak masalah kan?” jawabku. Bobby tertawa.
“Lagian, cuma boneka ini yang bisa jadi teman hidupku…” ujarku lagi.
“Kok gitu?”
“Ayahku sibuk, ibuku apalagi. Teman-teman disekolah… Ah, mereka tidak mungkin mau berteman denganku,” kataku sedih.
“Kenapa?” tanya Bobby heran.
“Gak tau. Dikiranya aku ini makhluk Eksosfer kali ya? Haha…” kataku tertawa.
Tak lama kemudian, sampailah aku di depan sekolah.
“Jangan lupa, jemput aku jam dua nanti ya?” kataku pada Bobby.
“Siap, bos!” katanya sambil memberihormat. Kami berdua tertawa.
***
Tak terasa, sudah lima hari Bobby menjalankan janjinya padaku. Besok adalah hari terakhir Bobby mengantar-jemputku ke sekolah.
***
Siang itu, seperti biasa, Bobby menjemputku dari sekolah. Sesampainya di depan rumahku, ia mengeluarkan sesuatu dari sadel motornya.
“Kei, aku bakal balik ke Amrik,” katanya sambil memegang bungkusan besar yang ia keluarkan dari sadel motornya tadi.
“What??! Kamu ngapain di Amrik?” kataku terkejut.
“Aku emang kuliah di Amrik Kei. Aku di Indonesia cuma sekedar liburan aja. Aku nggak nyangka, liburanku kali ini terasa sangat berharga. Karena kamu…” katanya panjang lebar. Aku masih terdiam.
“Dan ini, boneka Mickey Mouse dari aku. Tapi, aku nggak mau kamu manggil dia ‘Mickey’. Panggil aja ‘Bobby’. Karena aku tahu, boneka adalah teman hidupmu,Kei. Aku cinta sama kamu…” ujarnya sambil menyodorkan boneka yang dimaksud.
“Aku juga cinta sama kamu, Bob,” kataku sambil memeluk Bobby. “Aku harap, ini bukan pertemuan kita yang terakhir,” ujarku lagi.
Aku menerima Bobby. Dan juga ‘Bobby’. Tak lama setelah itu, Bobby beranjak pergi, setelah ia berjanji akan menemuiku dilain waktu.
Aku berjanji akan menjaga ‘Bobby’. Sampai Bobby akan menemuiku kembali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar